Menerjemahkan Besaran Kepemimpinan
January 8, 2009, 10:21 pm
Filed under: Uncategorized

“Seorang ksatria itu bersih dari rasa ingin terkenal atau dikenang manusia. Hati mereka laksana lentera petunjuk. Bersama kesederhanaan berjuang habis-habisan meski harus sendirian”

Tak berapa lama, Barack Hussein Obama, berhasil membuat dunia terperanjat. Jalinan ketegangan besar, baru saja ditembusnya. Setidaknya Ia telah mengalahkan sekaligus mengakhiri bagaimana kuasa yang bersarang nyaman di negerinya. Seni ketidakmungkinan yang mampu dimainkan dalam pertarungan panjang dan melelahkan, walaupun perjalanan kemenangannya sudah cukup jelas tertampang. Konstelasi penuh dinamika, dengan predikat ksatria yang melekat dalam kedewasaan bersikap. Kebesaran jiwa yang tak hanya ditunjukkan oleh seterunya, John McCain, namun juga dirinya. Mereka yang berjuang habis-habisan mewujudkan jalan harapannya, kemudian bersatu dalam kepahaman untuk saling menyadari dan mengakui keunggulan.

Energi unik dari belahan dunia sana, yang dalam persfektif ini, jelas terdapatnya sebuah refleksi akan pelajaran yang amat berharga. Mereka yang telah memahami dirinya tak lain sebagai makhluk tersempurna di alam semesta, dengan konstruksi yang terbangun atas dasar esensi penciptaannya. Reinhold Niebohr menyatakan, bahwa pada dasarnya manusia ialah makhluk immanent (sama dengan kosmos lain) dan transenden (dapat mengatasi hakikat). Pemahaman yang kemudian dapat kita turun dan kembangkan lebih jauh, bahwa manusia tercipta atas dasar 3 (tiga) hakikat, yaitu dimensi humanisasi, dimensi liberalisasi, dan dimensi transdental. Manusia juga dipahami sebagai anima intelectiva, akal sebagai kata kuncinya. Akal yang menjadikannya memiliki hati dan kesadaran berpikir atas keadaannya, jorgito el gosum, `aku berpikir maka aku ada’.

Selesai atas pemahaman yang kemudian dapat kita simpulkan, bahwa dengan segala kesempurnaanya dibandingkan kosmos lain, manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin di muka bumi, dimulai dari kesadaran setiap pribadi. Diserahkannnya tanggungjawab untuk menjaga dan membawa bumi tempat berpijaknya menjadi rahmat bagi alam semesta. Realitas yang agaknya sulit untuk kita temukan masa kini, di negeri ini, manusia yang menyadari hakikat penciptaannya. Tanggungjawab untuk menjadi pemimpin dalam setiap tingkatannya. Terlebih level kepemimpinan yang lebih tinggi, semakin sedikit dan sulit kita temukan adanya figur tauladan yang patut dicontoh dan diikuti. Pemimpin yang memiliki sikap serta perilaku positif, produktif, dan kontributif. Bahwa kebanyakan pemimpin saat ini hanyalah berorientasi dalam energi mengumpulkan dan mengabadikan kekuasaan.

Hingga kini, bangsa Indonesia telah dan sedang membayar ongkos sangat mahal dengan pernah memiliki sejarah kepemimpinan bangsanya. Zaman yang telah mencatat, terdapatnya dua tokoh pemimpin karismatis dan kuat, yang karena alasan yang sama pernah lama sekali menutup peluang bagi sejarah untuk melahirkan harapan dan generasi baru kepemimpinan Indonesia, dalam setiap tingkatannya. Efek yang berimplikasi jauh sekali, ialah kemubaziran waktu. Berupa hilangnya peluang untuk berkiprah dan merebut kesempatan-kesempatan zaman (Adil, 2007). Tak luput juga bagaimana perjalanan kepemimpinan bangsa ini yang selalu berakhir hard-landing, karena tidak terbentuknya desain dan nilai-nilai kebaikan yang pantas diwariskan secara menyeluruh bagi masyarakat.

Bung Hatta, menyatakan dengan tegas dalam tulisannya bahwa, “Indonesia dengan segala konskuensi kesulitannya, luas tanah tersebar letaknya. Pemerintah negara yang semacam itu hanya dapat diselenggarakan oleh mereka yang mempunyai tanggung jawab sebesar-besarnya. Rasa tanggung jawab itu akan hidup dalam dada, jika kita sanggup hidup dengan memikirkan lebih dahulu kepentingan masyarakat, keselamatan nusa, dan kehormatan bangsa. Karena jika pemimpin tak punya moril yang kuat, maka ia tak akan dapat memenuhi kewajibannya. Hati kita harus penuh dengan cita-cita besar, lebih besar dan lebih lama umurnya dari kita sendiri.”

Tidak untuk para pemimpin yang jauh tinggi berada di langit, lupa dan entah melupakannya, bahwa mereka berasal dan berakhir di tanah. Mereka tidak menginjak bumi tempatnya berpijak, sehingga tidak akan mau tahu setiap gerak langkah. Pemimpin yang sekedar pemimpi, yang tak jauh lebih baik dari sang pemimpi yang ingin jadi pemimpin. Mereka hanya berkiprah dalam alam yang dibuatnya sendiri, yang ketegangan dan resiko kehidupan sama sekali tak pernah terjadi. Inilah yang kemudian menurut ekonom Rizal Ramli, sebagai salah satu dari 3 penyebab akut bobrok dan mundurnya bangsa Indonesia, ialah kualitas dan tanggungjawab kepemimpinan, selain budaya feodalisme dan praktik neokolonialisme yang merajalela.

Harapan besar yang terus menengadah, di tengah bentang masa yang semakin terarah. Pemilu 2009, harus menjadi saksi atas hadirnya perubahan sejati penuh arti. Cukup bagi kita semua berkawan dengan kekecewaan. Mereka, yang mulutnya berbusa dengan tangan yang selalu bergentanyangan kemana saja, sudah saatnya dilemparkan ke kantong sampah, kita benamkan ke lumpur hitam, agar mereka diam lalu mati tak bertenaga. Kerinduan yang amat besar akan hadirnya para pemimpin harapan, seorang negarawan, yang mampu menjadi pejuang peradaban. Penuh energi atas kepercayaan yang terbangun dari segenap emanasi kepribadian. Karakter, kompetensi, kepelayanan, integritas, dan spiritualitas yang pada akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman. Tepat melihat masalah, memahaminya, dan segera mengeksekusi solusi demi terwujudnya kejayaan.

Pemimpin yang layaknya sebuah pohon kehidupan, mengakar di tanah, menjulang ke angkasa. Tidak melupakan asal dan pedoman, kemudian siap dan bertekad dalam besaran kepemimpinan. Ranting dan daunnya meneduhkan mereka yang dipimpin, memberikan kesegaran dan kesejukan batin. Buahnya menjadi sebentuk hasil akan kerja keras dan ketulusan jiwa sejati memimpin. Ikhlas berikan sisa hidupnya dalam kebermanfaatan, tanggungjawabnya atas peran. Seperti yang baru saja terjadi disana, dimana seorang Obama telah membuktikannya. Bahwa masih banyak yang harus disadarkan, dibantu, dan disatukan dalam perjuangan tanpa akhir. Tanpa tawaran, kita semua Indonesia butuh keteladanan. Dimulai dari pucuk kepemimpinan, sebagai gambaran atas semangat perubahan.

Semoga semangat perubahan dan janji akan kebangkitan yang selalu kita lantangkan bagi negeri ini, juga terpercik deras hingga membasahi setiap langkah kita sebagai Mahasiswa. Pergilliran generasi yang menuntut selangkah kemajuan, progresivitas, tidak diam apalagi mundur ke belakang. Mahasiswa harus lebih berani dan mensyukuri segala apa yang dimiliki, menjadikannya sebagai energi atas intelektualitas dan progresivitas kita sebagai seorang Mahasiswa, intelektual muda, yang akan menjadi aktivis sepanjang masa.

HIDUP PEMUDA INDONESIA!

HIDUP MAHASISWA INDONESIA!

HIDUP RAKYAT INDONESIA!

HIDUP BANGSA INDONESIA!

Advertisement

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.