Filed under: Artikel
sikap pragmatis dan keserakahan manusia, yg bisa jd ada pada diri kita hari ini, dimulai dari sikap kita memandang hidup!
ya, dalam banyak hal, kita diarahkan untuk memandang hidup secara fisiologis dan materialis! memang, sejatinya itulah sifat dasar,fitrah seorang manusia.
namun,
bukan seperti itulah seharusnya kita memandang hidup! cobalah untuk merubah bagaimana seharusnya hidup ini kita jalani!
Ambilah contoh sebuah roti!
Bagaimana roti itu dihargai? gimana sebuah produk ditentukan harganya?
Roti, bahan awalnya ialah gandum, yang kemudian dibuat menjadi tepung. Dan akhirnya roti yang enak itu bisa dinikmati.
Ilustrasinya seperti ini:
) 6.000
Gandum 6.000
) 4.000
Tepung 10.000
) 20.000
Roti ?????
Bagaimana kemudian roti itu ditentukan harga jualnya?
Biaya yang dikeluarkan dalam pengadaan gandum sebesar 6.000
Lalu gandum dibuat menjadi tepung, membutuhkan biaya 4.000. sehingga tepung pun berharga 10.000.
Dan saat tepung dibuat menjadi sebuah roti, membutuhkan biaya sebesar 20.000. maka, roti akan berharga sebesar 10.000 + 20.000 = 30.000!!
ya, roti tersebut ditentukan harga jualnya berdasarkan nilai tambah (value added) nya!
Sebenarnya analogi di atas sangat sederhana! bahkan terlalu sederhana.
Tapi itulah keistimewaan penciptaan ini. terlalu banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dan hikmah bagi kehidupan manusia.
Begitu pula pada diri kita semua, sebagai seorang manusia..
Jika ku tanyakan,
seberapa mahalkah harga dari dirimu??
atau lebih tepatnya,
Bagaimana kita sebagai manusia dipandang dan dihargai oleh orang lain??
ya, bagaimana seseorang itu dinilai oleh orang lain?
Bukan berarti ingin diperhatikan, pamrih, gila hormat, dan lain sebagainya..
namun,
seberapa unggulkah dirimu?
seberapa sukseskah?
dan bagaimana sebenarnya kompetensi dan kemamupuanmu?
Itu semua dapatlah terjawab..
dari sebesar dan setinggi nilai tambah(value added) yang kau miliki!
sehingga kemudian menjadi sangat jelas,
ukuran dari Kebesaran,
Keunggulan,
dan Kesuksesan seseorang,
akan dapat dinilai berdasarkan
Kontribusi dan Aktualisasi dirinya!
bukan dari ukuran dan jumlah materi yang kita miliki,
karena materi tak dapat berbicara nyata,
materi hanya bersifat sementara,
dan materi jelas membuat tak satupun manusia puas memilikinya..
sedangkan perbuatan akan mencerminkan perilaku dan kepribadian seseorang.
perbuatan,kontribusi,aktualisasi diri
yang kemudian menjadi
nilai tambah,
ialah bukti nyata dan konkrit dari siapa sebenarnya dirimu..
se-manusia apakah dirimu..
dan seberapa sukses dan besarnya dirimu..
salah satu sumbangsih dari pragmatisnya manusia saat ini, bisa jadi dimulai dari teori-teori yang diciptakan entah itu sengaja atau tidak, untuk melemahkan manusia sendiri..
gw gk mengatakan teori itu salah,
namun qt perlu merubah cara pandangnya!
dalam ilmu Manajemen yg gw pelajari di kampus, mungkin nak2 psikologi jg pd dapet..
teori yg dikemukakan oleh Maslow,
disebut Teori Hirarki Kebutuhan..
Bertahan Hidup (fisiologis)
I
Rasa Aman
I
Bersosialisasi (kasih sayang)
I
Harga Diri
I
Aktualisasi Diri
ya, seperti itulah teorinya. Hidup dimulai dari kebutuhan fisiologis atau dalam kaitannya dengan bertahan hidup, kemudian dapat memiliki rasa aman, bersosialisasi, harga diri, dan pada akhirnya barulah saatnya untuk mengaktualisasikan diri!
Memang, hal tersebut memang menggambarkan bagaimana potret manusia sebenarnya.
Dimulai dari kebutuhan materi terlebih dahulu, barulah kemudian dapat menghasilkan sesuatu dan bermanfaat untuk sekitarnya..
Baik kah jika kita berpandangan demikian??
Jelas,
Teori tersebut akan sangat bijak dan dapat menyelesaikan solusi permasalahan manusia jika kita coba lihat dengan persfektif lain,
Baliklah teori tersebut!!
Aktualisasi Diri
I
Harga Diri
I
Bersosialisasi (kasih sayang)
I
Rasa Aman
I
Bertahan Hidup (fisiologis)
Hidup dimulai dari bagaimana kita bisa mengaktualisasikan diri kita!
Kemudian secara otomatis harga diri akan kita peroleh, tentu saja kita akan dapat bersosialisasi dengan baik dalam sebuah komunitas, rasa aman akan kita dapatkan dari hubungan sosialisasi dan dukungan orang disekitar kita, dan kemudian kebutuhan fisiologis kita akan serta merta terpenuhi karena kita telah memposisikan diri menjadi pribadi yang unggul dan dipandang baik oleh sekitar kita!
Hal tersebut diasumsikan kebutuhan dasar(makan, pakaian, tempat tinggal) lainnya sudah kita penuhi. Dengan tanpa perlu standar tinggi.
Karena memang tembakan dari pemikiran ini ialah orang yang secara kebutuhan dasar telah terpenuhi, dan jika berbicara kita, hal tersebut memang tak bermasalah!
dan jika sasarannya adalah masyarakat secara umum, secara mayoritas kebutuhan dasar tersebut juga sudahlah terpenuhi.
Kita tak berbicara jumlah dan sebesara besarkah itu terpenuhi. karena, dengan sudah adanya kata terpenuhi, maka hal tersebut pada dasarnya terselesaikan.
Dengan beralih pada pandangan Aktualisasi Diri terlebih dahulu,
maka semangat kita,
dalam melakukan hal apapun,
aktivitas,
bekerja, dalam hal apapun, setiap profesi kita,
dan sebagainya
maka kita tak akan berorientasi pada kebutuhan materi!
yang memang tak ada batas kepuasannya!
Berpandangan dengan beraktualisasi diri terlebih dahulu,
akan menghasilkan hasil dan imbalan yang terbalaskan..
Kerja dan kontribusi kita pasti akan berujung pada terpenuhinya kebutuhan materi maupun fisiologis kita!
Kita akan dihargai dan dipandang sesuai dengan kebermanfaatan dan kontribusi diri kita!
Itulah kemudian disebut sebagai
Keikhlasan..
Dalam segala halnya..
Ikhlas..ilmu yang begitu sulit,
namun berimplikasi dan bermanfaat begitu besarnya..
merubah paradigma diri kita,
untuk berpandangan aktualitatif dan berkarakter kontrbutif..
merupakan usaha nyata untuk merubah tatanan masyarakat kita
Dimulai dari dalam diri kita sendiri..
Menuju masyarakat yang sadar dan berharap akan kemajuan bangsanya..
Dan permasalahan krusial bangsa ini,
Tatanan sosial moral yang terus terdegradasi,
akan sedikit demi sedikit membaik..
Pondasi dan langkah awal membentuk tatanan kehidupan dimulai dari setiap subjek kehidupan itu sendiri..
manusia…
karena
Hidup diciptakan hanyalah sementara..
Hidup tak pernah berarti untuk ketidakbermanfaatan..
dan
Hidup sejatinya ialah investasi hari kemudian…
Filed under: Uncategorized
“Seorang ksatria itu bersih dari rasa ingin terkenal atau dikenang manusia. Hati mereka laksana lentera petunjuk. Bersama kesederhanaan berjuang habis-habisan meski harus sendirian”
Tak berapa lama, Barack Hussein Obama, berhasil membuat dunia terperanjat. Jalinan ketegangan besar, baru saja ditembusnya. Setidaknya Ia telah mengalahkan sekaligus mengakhiri bagaimana kuasa yang bersarang nyaman di negerinya. Seni ketidakmungkinan yang mampu dimainkan dalam pertarungan panjang dan melelahkan, walaupun perjalanan kemenangannya sudah cukup jelas tertampang. Konstelasi penuh dinamika, dengan predikat ksatria yang melekat dalam kedewasaan bersikap. Kebesaran jiwa yang tak hanya ditunjukkan oleh seterunya, John McCain, namun juga dirinya. Mereka yang berjuang habis-habisan mewujudkan jalan harapannya, kemudian bersatu dalam kepahaman untuk saling menyadari dan mengakui keunggulan.
Energi unik dari belahan dunia sana, yang dalam persfektif ini, jelas terdapatnya sebuah refleksi akan pelajaran yang amat berharga. Mereka yang telah memahami dirinya tak lain sebagai makhluk tersempurna di alam semesta, dengan konstruksi yang terbangun atas dasar esensi penciptaannya. Reinhold Niebohr menyatakan, bahwa pada dasarnya manusia ialah makhluk immanent (sama dengan kosmos lain) dan transenden (dapat mengatasi hakikat). Pemahaman yang kemudian dapat kita turun dan kembangkan lebih jauh, bahwa manusia tercipta atas dasar 3 (tiga) hakikat, yaitu dimensi humanisasi, dimensi liberalisasi, dan dimensi transdental. Manusia juga dipahami sebagai anima intelectiva, akal sebagai kata kuncinya. Akal yang menjadikannya memiliki hati dan kesadaran berpikir atas keadaannya, jorgito el gosum, `aku berpikir maka aku ada’.
Selesai atas pemahaman yang kemudian dapat kita simpulkan, bahwa dengan segala kesempurnaanya dibandingkan kosmos lain, manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin di muka bumi, dimulai dari kesadaran setiap pribadi. Diserahkannnya tanggungjawab untuk menjaga dan membawa bumi tempat berpijaknya menjadi rahmat bagi alam semesta. Realitas yang agaknya sulit untuk kita temukan masa kini, di negeri ini, manusia yang menyadari hakikat penciptaannya. Tanggungjawab untuk menjadi pemimpin dalam setiap tingkatannya. Terlebih level kepemimpinan yang lebih tinggi, semakin sedikit dan sulit kita temukan adanya figur tauladan yang patut dicontoh dan diikuti. Pemimpin yang memiliki sikap serta perilaku positif, produktif, dan kontributif. Bahwa kebanyakan pemimpin saat ini hanyalah berorientasi dalam energi mengumpulkan dan mengabadikan kekuasaan.
Hingga kini, bangsa Indonesia telah dan sedang membayar ongkos sangat mahal dengan pernah memiliki sejarah kepemimpinan bangsanya. Zaman yang telah mencatat, terdapatnya dua tokoh pemimpin karismatis dan kuat, yang karena alasan yang sama pernah lama sekali menutup peluang bagi sejarah untuk melahirkan harapan dan generasi baru kepemimpinan Indonesia, dalam setiap tingkatannya. Efek yang berimplikasi jauh sekali, ialah kemubaziran waktu. Berupa hilangnya peluang untuk berkiprah dan merebut kesempatan-kesempatan zaman (Adil, 2007). Tak luput juga bagaimana perjalanan kepemimpinan bangsa ini yang selalu berakhir hard-landing, karena tidak terbentuknya desain dan nilai-nilai kebaikan yang pantas diwariskan secara menyeluruh bagi masyarakat.
Bung Hatta, menyatakan dengan tegas dalam tulisannya bahwa, “Indonesia dengan segala konskuensi kesulitannya, luas tanah tersebar letaknya. Pemerintah negara yang semacam itu hanya dapat diselenggarakan oleh mereka yang mempunyai tanggung jawab sebesar-besarnya. Rasa tanggung jawab itu akan hidup dalam dada, jika kita sanggup hidup dengan memikirkan lebih dahulu kepentingan masyarakat, keselamatan nusa, dan kehormatan bangsa. Karena jika pemimpin tak punya moril yang kuat, maka ia tak akan dapat memenuhi kewajibannya. Hati kita harus penuh dengan cita-cita besar, lebih besar dan lebih lama umurnya dari kita sendiri.”
Tidak untuk para pemimpin yang jauh tinggi berada di langit, lupa dan entah melupakannya, bahwa mereka berasal dan berakhir di tanah. Mereka tidak menginjak bumi tempatnya berpijak, sehingga tidak akan mau tahu setiap gerak langkah. Pemimpin yang sekedar pemimpi, yang tak jauh lebih baik dari sang pemimpi yang ingin jadi pemimpin. Mereka hanya berkiprah dalam alam yang dibuatnya sendiri, yang ketegangan dan resiko kehidupan sama sekali tak pernah terjadi. Inilah yang kemudian menurut ekonom Rizal Ramli, sebagai salah satu dari 3 penyebab akut bobrok dan mundurnya bangsa Indonesia, ialah kualitas dan tanggungjawab kepemimpinan, selain budaya feodalisme dan praktik neokolonialisme yang merajalela.
Harapan besar yang terus menengadah, di tengah bentang masa yang semakin terarah. Pemilu 2009, harus menjadi saksi atas hadirnya perubahan sejati penuh arti. Cukup bagi kita semua berkawan dengan kekecewaan. Mereka, yang mulutnya berbusa dengan tangan yang selalu bergentanyangan kemana saja, sudah saatnya dilemparkan ke kantong sampah, kita benamkan ke lumpur hitam, agar mereka diam lalu mati tak bertenaga. Kerinduan yang amat besar akan hadirnya para pemimpin harapan, seorang negarawan, yang mampu menjadi pejuang peradaban. Penuh energi atas kepercayaan yang terbangun dari segenap emanasi kepribadian. Karakter, kompetensi, kepelayanan, integritas, dan spiritualitas yang pada akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman. Tepat melihat masalah, memahaminya, dan segera mengeksekusi solusi demi terwujudnya kejayaan.
Pemimpin yang layaknya sebuah pohon kehidupan, mengakar di tanah, menjulang ke angkasa. Tidak melupakan asal dan pedoman, kemudian siap dan bertekad dalam besaran kepemimpinan. Ranting dan daunnya meneduhkan mereka yang dipimpin, memberikan kesegaran dan kesejukan batin. Buahnya menjadi sebentuk hasil akan kerja keras dan ketulusan jiwa sejati memimpin. Ikhlas berikan sisa hidupnya dalam kebermanfaatan, tanggungjawabnya atas peran. Seperti yang baru saja terjadi disana, dimana seorang Obama telah membuktikannya. Bahwa masih banyak yang harus disadarkan, dibantu, dan disatukan dalam perjuangan tanpa akhir. Tanpa tawaran, kita semua Indonesia butuh keteladanan. Dimulai dari pucuk kepemimpinan, sebagai gambaran atas semangat perubahan.
Semoga semangat perubahan dan janji akan kebangkitan yang selalu kita lantangkan bagi negeri ini, juga terpercik deras hingga membasahi setiap langkah kita sebagai Mahasiswa. Pergilliran generasi yang menuntut selangkah kemajuan, progresivitas, tidak diam apalagi mundur ke belakang. Mahasiswa harus lebih berani dan mensyukuri segala apa yang dimiliki, menjadikannya sebagai energi atas intelektualitas dan progresivitas kita sebagai seorang Mahasiswa, intelektual muda, yang akan menjadi aktivis sepanjang masa.
HIDUP PEMUDA INDONESIA!
HIDUP MAHASISWA INDONESIA!
HIDUP RAKYAT INDONESIA!
HIDUP BANGSA INDONESIA!